Jumat, 27 Mei 2016

SAYA KONSULTASI KE ISTRI DULU YA..



Kalimat ini adalah kalimat yang paling sering saya dengar ketika melakukan pertemuan kedua dengan seorang prospek. Setelah selesai saya menjelaskan manfaat dari program asuransi, tidak ada keberatan, tidak ada koreksi tidak ada pertanyaan, "Saya tertarik tapi saya tanyakan ke istri saya dulu ya"

Seperti dua hari lalu, di sebuah toko Accessories HP di jalan Sukapura, selesai saya menjelaskan manfaat dari ilustrasi yang saya sampaikan kalimat pamungkas ini kembali muncul, "Saya tertarik sekali, tapi saya harus tanya dulu sama istri saya" dan saya akhirnya menjawab Ok kalau begitu dua hari lagi saya mampir lagi ya koh..

Dan hari ini.

Sore koh, sapa saya.

Oh hai sore, wah saya sudah tanya loh ke istri saya tapi katanya nggak dulu deh, sahut si kokoh menjawab sapa saya dengan langsung to the point.

Oh ya kenapa nih koh? Tanya saya lagi. Dalam hati rada penasaran juga karena rasanya saya sudah menjelaskan program yang saya buat si kokoh ini, dan si kokoh ini paham betul bahwa manfaat asuransi ini yang saya sampaikan manfaat terbesarnya adalah justru untuk istrinya yang tidak bekerja dan anaknya yang
masih berumur satu tahun.

Ya kata istri saya masih banyak keperluan yang lebih penting, jawab si kokoh.

Ooo gitu ya koh? Sahut saya.

Koh tahu gak, kalau sepanjang saya ada di industri asuransi ini sepanjang pengalaman saya,  95% istri kalau ditanya suaminya untuk masuk asuransi jawabannya adalah TIDAK SETUJU. Tapi ada fakta pahitnya koh,  100% dari istri kalau ditanya apakah seharusnya ALMARHUM suaminya mengambil asuransi sebelum meninggal, jawabannya kompak MEREKA SETUJU koh. Tapi mau setuju atau bagaimanapun itu udah telat koh.

Koh istri kokoh mengatakan tidak karena mungkin buat dia, uang preminya bisa mengurangi jatah dia untuk ngisi kulkas dirumah, sayang dong uang segini dibuang² untuk sesuatu yang belum perlu,  iya kalau sakit? Kalau nggakan rugi banget bayar mahal² gak kepake juga manfaatnya, mending uang segini dipake buat cicil mobil, atau kulkas baru 12 pintu,  lagian lu kan masih muda masih jauhlah dari yang namanya sakit² kayak gitu.
Mungkin istri kokoh akan berfikir seperti itu ya koh? Tapi tenang koh karena istri kokoh gak sendirian 95% istri yang tidak setuju tadi juga bilangnya seperti itu koh, tapi 100% yang setuju bilangnya begini koh "tadinya saya juga mikir seperti itu waktu suami saya masih ada".

Koh ada nasabah kita, bukan nasabah saya tapi nasabah teman saya yang masih satu team dengan saya, usianya masih muda masih 30 awal, dari obrolan dengan teman saya disepakati program yang tepat untuk dia ini preminya 2,5juta, dia bilang programnya bagus dan pasti ambil, tapi sama koh dengan kokoh, dia mau konsultasi dulu dengan istrinya.
Tebak koh jawaban si istri bagaimana?
Istrinya marah marah tidak setuju, ngapain mau ambil asuransi mahal² uang segitu kalau dipake buat beli ini beli itu udah lumayan, nyicil mobil juga bisa, intinya si istri nolak keras koh.

Berapa hari kemudian akhirnya sisuami ini ketemu dengan teman saya dan dia memutuskan untuk ambil tapi yang preminya 1.5 juta aja dengan wanti² supaya istrinya jangan sampai tahu.

Satu bulan lewat dua bulan lewat tiga bulan lewat... persis pas bulan ke empat si suami meninggal katanya kena brain death, si istri gak kerja anak masih satu tahun tiba² suaminya yang muda yang sehat meninggal karena sakit kritis gaji suami juga stop.

Tapi untungnya koh klaim sakit kritis dan meninggalnya bisa cair total premi yang di setor 1,5 x 3 bulan baru 4,5juta tapi Prudential kasih 1,1M buat si istri dan anaknya, harusnya bisa lebih kalau preminya tidak dipotong.

Waktu klaim disetujui si istri nangis koh, dia bilang sama teman saya terima kasih udah maksa suaminya ambil polis.

Mata si kokoh terlihat berkaca² akhirnya dia bilang, supaya saya ketemu dengan istrinya 2 hari lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar